Harapan Anak Korban Penganiayaan oleh Ayah Kandung Di Duren Sawit, Ingin Bisa Sekolah

//Harapan Anak Korban Penganiayaan oleh Ayah Kandung Di Duren Sawit, Ingin Bisa Sekolah

Harapan Anak Korban Penganiayaan oleh Ayah Kandung Di Duren Sawit, Ingin Bisa Sekolah

Polisi menerima informasi tentang perbuatan AM (40) pada Rabu (20/07/2020). Setelah video penganiayaan korban RPP oleh AM viral di media sosial. Seorang warga berinisiatif  untuk mendokumentasikan kekejaman AM, yang dilakukan Rabu sore.

Kepala Kepolisian Resor Metropolitan Jakarta Timur Komisaris Besar Arie Ardian Rishadi mengatakan, berdasarkan keterangan saksi dan korban AM sudah lebih dari satu kali melakukan kekerasan terhadap korban. Namun petugas masih akan mendalami lagi kasus tersebut.

 

“Tadi malam viral, kita dapat informasi pukul 23.30 dan kita langsung amankan pelaku supaya tidak berulang. Sekarang kita proses aksi kekerasan ini,” kata Kapolrestro Jaktim Kombes Pol Arie Ardian di Jakarta, Kamis 23 Juli 2020.

 

Arie mengungkapkan kejadian itu berawal saat ibu tiri SPP menyuruhnya menjemur pakaian di depan rumah. Namun karena jemuran sudah penuh dengan pakaian, tante korban menyarankan agar SPP menggunakan gantungan pakaian. Hal tersebut membuat ibu tiri dan ayah kandungnya marah, hingga menjambak rambut korban dan menyeretnya sejauh 7 meter.

Saat ini korban penganiayaan anak oleh ayah kandungnya itu telah dibawa ke rumah sakit untuk proses visum atas luka yang diderita. “AM kita kenakan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga atau UU Nomor 35 tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Ancaman hukuman di atas lima tahun penjara,” kata Arie.

 

Setelah ayah kandungnya ditahan kepolisian, korban kemudian tinggal bersama tante dan neneknya. Korban mengaku trauma dan takut bila ayahnya keluar penjara kemudian kejadian tersebut terulang. Tente RPP yang juga adalah adik kandug dari pelaku, menyatakan bahwa korban ingin sekali lepas dari penganiayaan ayah kandungnya.

Korban bahkan menungkapkan bahwa ia ingin seperti orang biasa yang bisa bersekolah.

 

Abdul Mihrab (40) bersama istri sirinya Ade Roma Widyaningsih kerap kali membangunkan RPP pukul 08.00 WIB lalu membawa putri kandung itu ke rumah bosnya untuk bekerja.

Di sana, Rohmah meminta RPP membuang sampah dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga lain yang harusnya tak dikerjakan korban.

“Kalau ditegur alasannya untuk mendidik anak. Padahal anak kandungnya yang usia 10 tahun enggak disuruh kerja,” ujar Linda Sari, tante korban.

 

Maunya sekolah biasa saja, biar masih bisa ketemu keluarga. Tapi Alhamdulillah banyak yang perhatian, kemarin Kak Seto datang ke sini juga, nemuin anaknya,” tuturnya.

 

Dikutip dari Tribunnewswiki.com

Linda menyebut Kak Seto datang pada Jumat (24/7/2020) guna memastikan RPP dapat pendampingan psikologis untuk pulih dari trauma.

Narti, ibu kandung pelaku sangan mendukung untuk proses hukuman anaknya, ia juga berharap korban sebagai cucu keduanya bisa melanjutkan pedidika Sekolah dasarnya.

 

 

 

 

 

By | 2020-07-27T15:34:18+07:00 July 27th, 2020|Berita|0 Comments

About the Author:

Avatar

Leave A Comment

%d bloggers like this: