Seperempat Miliar Anak-Anak Di Dunia Tak Mengeyam Pendidikan

/, Berita/Seperempat Miliar Anak-Anak Di Dunia Tak Mengeyam Pendidikan

Seperempat Miliar Anak-Anak Di Dunia Tak Mengeyam Pendidikan

Kemiskinan dan diskriminasi dalam bidang pendidikan, ditambah dengan permasalahan pandemi Covid-19 mengakibatkan hampir 260 juta anak di seluruh dunia tidak bisa sekolah. Hal ini berdasarkan laporan  salah satu lembaga PBB yaitu, United Nations Educational Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada Selasa (23/6).

Dikutip dari Voaindonesia.com, Anak-anak dari kelompok masyarakat miskin, termasuk anak perempuan, penyandang disabilitas, imigran dan kelompok minoritas etnis, berada dalam kelompok yang dirugikan di banyak negara, kata Badan Pendidikan PBB, UNESCO, yang berkantor di Paris.

Tahun 2018, “258 juta anak dan pemuda sama sekali terabaikan dalam bidang pendidikan, terutama karena faktor kemiskinan, kata laporan itu. Jumlah itu mencakup 17 persen anak-anak usia sekolah, kebanyakan yang tinggal di Asia selatan dan tengah, dan di kawasan sub-Sahara Afrika. Keadaan ini bertambah buruk dengan munculnya wabah virus corona, dimana lebih dari 90 persen populasi siswa di seluruh dunia terimbas karena penutupan sekolah.

Lain halnya dengan anak-anak dari keluarga kaya, mereka masih bisa tetap bersekolah dari rumah menggunakan media komputer, smart phone dan jaringan internet. Tetu saja hal ini terdengar sangat memprihatinkan karena lebih beruntung dari jutaan anak lainnya.

Anak-anak penyandang disabilitas di 10 negara miskin dan menengah hanya bisa mencapai tingkat baca-tulis yang minimum. Kata laporan UNESCO itu, di 20 negara miskin, terutama di sub-Sahara Afrika, hanpir tidak ada anak perempuan yang tamat sekolah menengah.

Di Amerika, siswa LGBT kemungkinan tiga kali lebih banyak tinggal di rumah dibanding anak-anak lain, karena alasan keamanan.

“Sayangnya, kelompok-kelompok yang terpinggirkan ini tergeser atau didesak keluar dari sistem pendidikan lewat berbagai keputusan yang tidak jelas, sehingga mereka tidak bisa mengikuti pelajaran yang normal, atau diberi mata pelajaran yang tidak penting, penggunaan buku panduan yang menstereotipkan kelompok mereka dan diskriminasi dalam pendanaan” dalam laporan tersebut.

 

By | 2020-07-09T08:50:14+07:00 July 9th, 2020|Artikel, Berita|0 Comments

About the Author:

Avatar

Leave A Comment

%d bloggers like this: