6 Tahap Permainan Sesuai Perkembangan Anak

//6 Tahap Permainan Sesuai Perkembangan Anak

6 Tahap Permainan Sesuai Perkembangan Anak

kumparanMoms, bermain adalah suatu kegiatan alamiah yang dilakukan anak-anak. Bermain pun memiliki segudang manfaat untuk si kecil, lho, Moms. Beberapa di antaranya adalah membangun kreativitas dan imajinasi anak, mengurangi ketegangan, membebaskannya dari stres, anak sejahtera secara psikologis dan sehat secara fisik, serta meningkatkan hormon bahagia.

Namun, tahukah Anda, bahwa jenis-jenis permainan yang dilakukan anak itu rupanya beragam. Seperti dikutip dari Very Well Family, berikut ini adalah 6 jenis permainan sesuai perkembangannya dan penting orang tua pahami:

  1. Unoccupied (Permainan bebas)
Kegiatan ini biasanya dilakukan anak ketika masih bayi. Permainan bebas biasanya mengacu pada aktivitas ketika seorang anak sebenarnya tidak bermain sama sekali. Misalnya saja ketika anak tengah memandang langit, berbaring di tempat tidur dan memainkan anggota badannya, atau memperhatikan hal lain yang menurutnya menarik.
“Jadi, enggak ngapa-ngapain. Duduk doang, leyeh-leyeh, enggak apa-apa. Itu main (juga namanya),” tambah psikolog anak Irma Gustiana, M.Psi, Psi saat ditemui di MULA by Galeria Jakarta, Cilandak Town Square belum lama ini.
2. Solitary (Bermain sendiri)
Meski dinamakan bermain sendiri, tapi otak anak tetap bekerja, lho, Moms. Ya, misalnya saja ketika anak tengah bermain merakit mainan atau robot atau boneka-bonekaan sendiri, itu rupanya imajinasi anak tengah berjalan. Tak hanya itu, jenis permainan ini juga meningkatkan rasa percaya diri anak dan membentuknya menjadi pribadi mandiri.
Kegiatan ini biasanya dilakukan saat anak berusia 2-3 tahun. Untuk itu, agar anak tetap aman, Anda pun dapat mengawasi dan mendampingi si kecil dari jauh.
3. Onlooker (Mengamati)
Apakah anak Anda senang mengamati atau melihat anak-anak lain bermain? Jika ya, anak Anda pun sebenarnya tengah bermain. Pada saat itu, meski tidak terlibat dalam permainan yang ia amati, tapi otak anak juga sedang menyerap hal-hal yang dipandangnya itu, Moms.
Jadi, jangan khawatir ya jika si tiga tahun Anda, berperilaku seperti ini. Sebab, hal ini bisa terjadi karena anak Anda mungkin masih malu untuk langsung bergabung. Ini pun dapat berubah seiring bertambahnya usia si kecil.
“Dia sambil melihat, mungkin imajinasinya berjalan, kemudian menyerap itu (hal yang dilihat) menjadi proses belajar. Akhirnya, nanti menjadi bagian informasi baru,” kata Irma lagi.
4. Parallel (Permainan paralel)
Permainan paralel merupakan suatu kegiatan dua anak balita atau lebih, yang tengah berada di satu tempat namun asyik bermain dengan mainannya masing-masing. Meski bermain dengan barang yang sama, tapi mereka fokus dengan yang dimilikinya itu.
Hal ini bukannya mereka saling tidak menyukai satu sama lain kok, Moms. Pada tahap ini memungkinkan anak untuk menjalin hubungan sosial dengan orang lain. Mereka juga bisa memulai obrolan, bahkan bertukar mainan. Tahap ini merupakan peralihan untuk ke jenis permainan berikutnya.
5. Associative (Permainan asosiatif)
Sedikit berbeda dari permainan paralel, permainan asosiatif juga menampilkan anak-anak bermain secara terpisah satu sama lain, Moms. Tetapi, dalam permainan ini anak-anak terlibat atau ada interaksi dengan teman sebayanya itu. Permainan yang biasa si kecil lakukan misalnya saja membangun kota dengan balok-balok.
Meski sibuk mainannya itu, mereka masih bicara satu sama lain atau saling membantu. Hal ini juga dapat mengembangkan keterampilan anak dan hubungan sosial anak dengan sekitar.
6. Cooperative (Permainan berkelompok)
Pada tahap ini, biasanya anak sudah mulai berbaur dan bermain bersama teman sebayanya. Kegiatan ini biasanya sudah diterapkan ketika si kecil masuk ke prasekolah atau anak-anak yang usianya sudah besar. Permainan yang biasa dilakukan anak bersama temannya, di antaranya petak umpet, ular naga, sepak bola, gobak sodor, dan lain sebagainya.

 

By | 2019-12-15T07:12:43+00:00 December 15th, 2019|Berita|0 Comments

About the Author:

Leave A Comment

%d bloggers like this: