Guru dan Orang Tua Diminta Ubah Pola Belajar Anak

//Guru dan Orang Tua Diminta Ubah Pola Belajar Anak

Guru dan Orang Tua Diminta Ubah Pola Belajar Anak

Koran Tempo, hal. 28 – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan meminta para guru dan orang tua mengubah pola belajar anak. Merosotnya skor Indonesia pada Progamme for Internasional Student Assesment (PISA) 2018 menunjukkan bahwa literasi masih menjadi masalah serius.”Kita sedang mengalami krisis literasi. Karena ini adalah hal serius, kita harus mencari animo,” kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim, kemarin.

Menurut Nadiem, meningkatkan budaya membaca anak tak seharusnya menjadi kewajiban guru semata. Para orang tua, kata dia, juga harus mulai membiasakan anak-anaknya membaca di rumah. Bahan bacaan pun tak perlu dibatasi hanya buku pelajaran. Buku cerita, novel, hingga koran pun bisa menjadi bahan bacaan di sela libur sekolah. “Semakin beragam bacaannya, semakin bagus,” ujar dia.

Nadiem melanjutkan, orang tua dan guru harus mulai mengubah paradigma. Selama ini, baik guru maupun orang tua banyak memaksa anak-anak membaca buku yang menurut mereka baik. Pola tersebut, menurut Nadiem, malah akan membuat siswa tak suka membaca karena merasa terpaksa. “Kita harus ubah polanya dengan mendorong mereka membaca apa pun yang mereka sukai sehingga membuat kegiatan membaca itu positif,”katanya.

Survei PISA 2018 menunjukkan skor kemampuan membaca Indonesia menurun dari 397 menjadi 371. Studi yang menilai 600 ribu anak usia 15 tahun di 79 negara ini menunjukkan kemampuan membaca Indonesia berada peringkat ke enam dari bawah. Selain kemampuan membaca, skor matematika siswa Indonesia merosot dari 386 menjadi 379 dibanding tiga tahun lalu. Untuk nilai matematika ini, Indonesia berada di peringkat ketujuh terbawah.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan, Totok Suprayitno, mengatakan hasil riset PISA mengkonfirmasi adanya kesalahan dalam pola belajar siswa. Ia menyebutkan sebanyak 7 dari 10 siswa usia 15 tahun memiliki tingkat literasi membaca di bawah kompetensi minimal. Para siswa di bawah rata-rata itu, kata dia, hanya mampu mengidentifikasi informasi dari bacaan pendek serta prosedur sederhana.

Menurut Totok, kebiasaan membaca buku apa pun membaca dampak bagi siswa untuk berpikir kritis. Buktinya, para siswa yang mengaku sering dilibatkan guru dalam pelajaran membaca memiliki skor 30 poin lebih tinggi dibanding siswa yang tidak pernah atau jarang dilibatkan. Siswa yang menghabiskan lebih banyak waktu dalam sepekan untuk membaca sebagai hiburan di waktu luang pun memiliki skor PISA 50 poin lebih tinggi dibandingkan siswa lainnya.

Dalam melibatkan siswa untuk aktif membaca, Totok mengatakan, guru bisa sering meminta siswa berpendapat, membuat daftar tokoh, menceritakan kembali isi bacaan, hingga membandingkan isi bacaan, hingga membandingkan isi bacaan dengan bacaan lain pada topik yang sama. Guru pun bisa membangkitkan daya berpikir krisis dengan memberikan pernyataan pemantik untuk mendorong siswa memahami persoalan dalam bacaan.

Totok menambahkan, para guru sudah saatnya berhenti meminta siswa untuk membaca nyaring. Sebab, berdasarkan hasil PISA, membaca nyaring tidak efektif untuk meningkatkan pemahaman isi bacaan bagi siswa usia 15 tahun. “Berkosentrasi pada isi bacaan, menandai atau merangkum dengan kata-kata sendiri terbukti lebih efektif untuk memahami isi bacaan,” katanya.

Pakar pendidikan dari Center of Education Regulation and Development Analysis, Indra Charismiadji, mengatakan, untuk untuk menaikan kemampuan belajar siswa, mengubah pola belajar saja tak cukup. Pemerintah, kata dia, perlu mengevaluasi semua program pendidikan dari perekrutan guru, pelatihan guru, kenaikan pangkat guru, hingga penggunaan anggaran pendidikan.

Setelah seluruh program dievaluasi, Indra mengatakan pemerintah perlu membuat cetak biru pendidikan. Tujuannya, agar pemerintah bisa memetakan dan menyusun program jangka panjang yang sesuai dengan kebutuhan. “Contoh mulai dari akses. Tadi data PISA menyebut 15 persen anak-anak kita masih belum sekolah. Itu di mana saja?” katanya.

Literasi Rendah

Indeks Aktivitas Literasi Membaca (Alibaca) menempatkan negara ini dalam kategori aktivitas literasi rendah dengan skor rata-rata seluruh provinsi sebesar 37,32. Data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan itu bahkan menunjukkan tak satu pun provinsi masuk dalam level aktivitas literasi tinggi dan sangat tinggi.

Indeks Alibaca

  • Kategori Sedang : 40,01-60,00 terdapat 9 provinsi
  • Kategori Rendah : 20,01-40,00 terdapat 24 provinsi
  • Kategori Sangat Rendah : 0-20,00 terdapat 1 provinsi

Keterangan

Kategori Tinggi : 60,01-80,00

Kategori Sangat Tinggi : 80,01-100

Statistik Perdidikan

SD 2017/2018 2018/2019
Jumlah Sekolah 148.244 148.682
Jumlah Siswa 25.486.506 25.238.923
Jumlah Siswa Mengulang 370.116 342.297
Jumlah Siswa Putus Sekolah 32.127 57.426
SMP 2017/2018 2018/2019
Jumlah Sekolah 38.960 39.640
Jumlah Siswa 10.125.724 9.981.216
Jumlah Siswa Mengulang 28.470 35.230
Jumlah Siswa Putus Sekolah 51.190 85.545
SMA 2017/2018 2018/2019
Jumlah Sekolah 13.495 13.695
Jumlah Siswa 4.783.645 4.845.068
Jumlah Siswa Mengulang 9.360 12.296
Jumlah Siswa Putus Sekolah 31.123 52.142
SMK 2017/2018 2018/2019
Jumlah Sekolah 13.710 14.067
Jumlah Siswa 4.904.031 5.009.265
Jumlah Siswa Mengulang 13.665 19.187
Jumlah Siswa Putus Sekolah 73.384 106.014
By | 2019-12-04T04:13:04+07:00 December 4th, 2019|Berita|0 Comments

About the Author:

Avatar

Leave A Comment

%d bloggers like this: