Nikah Usia Muda Sebabkan Anak Putus Sekolah

//Nikah Usia Muda Sebabkan Anak Putus Sekolah

Nikah Usia Muda Sebabkan Anak Putus Sekolah

Koran Tempo, Hal. 31- Mata pelajaran kecakapan hidup dan kesehatan reproduksi diusulkan masuk kurikulum pendidikan.

Angka pernikahan usia dini di Indonesia masih sangat tinggi, bahkan tertinggi ketujuh di seluruh dunia. Deputi Bidang Tumbuh Kembang Anak, KPPPA, Lenny N. Rosalin, mengatakan pernikahan di usia muda itu berdampak anak putus sekolah karena mereka memilih drop out dengan alasan menikah.

“Anak yang kawin pasti drop out dari sekolahnya. Padahal pemerintah ingin mencapai wajib belajar 12 tahun,” kata Lenny, kemarin.

Dia menambahkan, sesuai dengan data KPPPA, ada 20 provinsi dengan tingkat pernikahan dini berada diatas rata-rata nasional, yaitu diatas 11,2 persen. Tingkat pernikahan anak tertinggi terjadi di Sulawesi Barat, yang mencapai 19,4 persen dari jumlah pernikahan di daerah itu.

Lenny berharap pemerintah, sekolah, keluarga, ataupun anak ikut mencegah terjadinya pernikahan dini. Kategori anak yang dimaksudkan Lenny adalah masyarakat berusia dibawah 18 tahun. Ketentuan itu mengacu pada Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. “Anak harus berperan sebagai pelopor dan pelapor untuk pencegahan perkawinan anak,” katanya.

Lenny mengungkapkan tingginya angka pernikahan di usia muda ini sekaligus memperingati Hari Konvensi Hak Anak yang jatuh setiap tanggal 20 November. KPPPA memperingati Hari Konvensi Hak Anak itu dengan menggelar diskusi pada Senin lalu.

Salah seorang peserta diskusi itu adalah Nurhikma, dari Forum Anak, Kecamatan Manggala, Makassar. Siswa kelas XII Sekolah Menengah Atas Amanah Nusantara Makassar itu mengatakan pernikahan di usia muda rentan memicu terjadinya kekerasan dalam rumah tangga karena mereka belum siap secara mental. Dampak lain, kata dia adalah hak berpartisipasi anak perempuan dalam lingkungan akan dibatasi. “Di daerah saya, setiap mengajak anak-anak yang sudah menikah untuk ikut berorganisasi, suaminya selalu melarang, katanya.

Peneliti dari Child Protection & Advocacy Spesialist ChildFund Indonesia, lembaga non pemerintah yang bergerak di bidang perlindungan anak, Reny Rebeka Haning, menguatkan pendapat Lenny dan Nurhikma. Renny mengatakan penyebab perkawinan dini adalah kurangnya pendidikan tentang kesehatan reproduksi dan pendidikan seksual. “Dalam budaya ketimuran kita, kesehatan reproduksi masih dicampuradukkan dengan pemahaman bahwa mengajari kesehatan reproduksi sama saja dengan memberikan pendidikan untuk seks, katanya.

Penyebab lain, ujar dia , adalah sebagian orang tua berpandangan bahwa menikahkan anak di usia muda sekaligus bertujuan untuk membantu ekonomi keluarga. Sebab, beban menafkahi anak akan berpindah dari orang tua ke suami anak. Sebagian, lagi disebabkan oleh hamil di luar nikah. “Sehingga alasan lain menikahkan anak di usia muda adalah untuk mencegah zina,” katanya.

Reny mengusulkan beberapa solusi untuk mencegah pernikahan di usia muda. Di antaranya, pemerintah semestinya memasukkan mata pelajaran kecakapan hidup dan kesehatan reproduksi ke dalam kurikulum pendidikan, membuat aturan untuk memastikan anak mendapat pendidikan sampai usia 18 tahun, serta menutup akses terhadap situs-situs pornografi.

Solusi lain, kata dia, adalah perlunya orang tua menerapkan pola asuh anak secara terbuka, jujur dan responsif; adanya komunitas masyarakat yang membangun mekanisme perlindungan anak, serta memperdayakan ekonomi rumah tangga. “Dengan kemandirian secara ekonomi, harapannya anak tidak dinikahkan dengan alasan untuk membantu keluarga,” ujarnya.

Kawin Muda dalam Bilangan

BPS mencatat bahwa tingkat pernikahan anak di Indonesia masih sangat tinggi, mencapai 10 persen dari total masyarakat yang sudah menikah. Sesuai dengan data BPS, satu dari sembilan perempuan yang berusia 20-24 tahun. Sekitar 11,2 persen menikah sebelum usia 18 tahun. Pengertian anak itu mengacu pada UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, yang mengatur kriteria anak, yaitu berusia dibawah 18 tahun. Berikut ini data pernikahan anak di berbagai daerah.

Penduduk

Dewasa : 188 juta

Anak : 80 juta

Total : 268 juta

Anak

0-4 tahun: 27 persen

5-9 tahun : 28 persen

10-14 tahun : 29 persen

15-17 tahun : 16 persen

Daerah dengan Tingkat Pernikahan Anak di Atas Rata-rata Nasional

Sulawesi Barat : 19,4 persen

Kalimatan Tengah : 19,1 persen

Sulawesi Tenggara : 19 persen

Kalimantan Selatan : 17,6 persen

Kalimantan Barat : 17,5 persen

Sulawesi Tengah : 15,8 persen

Nusa Tenggara Barat : 15,5 persen

Gorontalo : 15,3 persen

Sulawesi Utara : 14,9 persen

Bengkulu : 14,3 persen

Bangka Belitung : 14,2 persen

Sulawesi Selatan : 14,1 persen

Maluku Utara : 13,4 persen

Jawa Barat : 13,3 persen

Jawa Timur : 12,7 persen

Jambi : 12,7 persen

Kalimantan Utara : 12,4 persen

Sumatera Selatan : 12,1 persen

Kalimantan Timur : 11,5 persen

Papua : 11,5 persen

By | 2019-11-29T06:20:36+00:00 November 29th, 2019|Berita|0 Comments

About the Author:

Leave A Comment

%d bloggers like this: